Sindojabar.com – Pameran Seni Rupa Nawasena yang berlangsung pada 1–7 Juni 2026 di Galeri Seni SOS Babakan Siliwangi Bandung menampilkan berbagai karya seni hasil penelitian para akademisi yang menghubungkan warisan budaya Nusantara, folklor, dan praktik seni rupa kontemporer. Pameran ini menjadi ruang pertemuan antara penelitian ilmiah dan penciptaan artistik yang dikembangkan para peneliti sejak 2023 hingga 2026.
Salah satu karya yang menarik perhatian publik adalah hasil penelitian Ariesa Pandanwangi yang berangkat dari pembacaan manuskrip Bujangga Manik, naskah Sunda Kuno yang merekam perjalanan seorang pertapa melintasi berbagai wilayah Nusantara hingga Bali.
Menurut Ariesa Pandanwangi, penelitian yang menjadi dasar penciptaan karyanya didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) melalui Skema Penelitian Terapan. Salah satu luaran penelitian tersebut diwujudkan dalam motif batik yang terinspirasi dari perjalanan Bujangga Manik menuju Bali.
Baca Juga:Ribuan Warga Padati NJP, Doel Sumbang Ajak Nostalgia Lewat Lagu ‘Pangandaran’
“Rangkaian puisi dalam manuskrip ini tidak menjelaskan secara rinci di mana Bujangga Manik berhenti selama perjalanan. Namun disebutkan bahwa ia mengunjungi Bali dengan menaiki sebuah kapal. Informasi yang terbatas ini justru menjadi tantangan dalam proses penelitian,” ujar Ariesa
Ia menjelaskan bahwa tidak adanya penyebutan nama-nama daerah di Bali dalam manuskrip membuat tim peneliti harus melakukan interpretasi berdasarkan petunjuk yang terdapat dalam puisi Bujangga Manik.
“Ketika nama-nama daerah di Bali tidak tercantum dalam teks, kami menghadapi tantangan untuk menerjemahkannya ke dalam bentuk visual. Indikator yang kami gunakan berasal dari unsur-unsur cerita yang dijelaskan dalam puisi Bujangga Manik dan kemudian dikaitkan dengan konteks budaya Bali,” katanya.
Melalui pendekatan tersebut, tim peneliti mengembangkan bahasa visual yang merepresentasikan perjalanan, pertemuan budaya, dan pengalaman spiritual yang terkandung dalam manuskrip tersebut.
Kurator pameran Rahmat Jabaril menilai pendekatan Ariesa menunjukkan bagaimana penelitian dapat menjadi fondasi penting dalam penciptaan karya seni kontemporer.
Baca Juga:Menolak Lupa: Cara Canvas Aksara Mengajak Generasi Muda Cintai Budaya Lokal
“Yang menarik dari karya ini adalah kemampuannya mengolah ruang-ruang kosong dalam manuskrip menjadi visual yang kaya makna. Ketika sumber sejarah tidak memberikan informasi lengkap, penelitian menjadi instrumen penting untuk membangun interpretasi yang tetap memiliki dasar akademik,” kata Rahmat.
Selain karya tentang Bujangga Manik, pameran ini juga menampilkan hasil riset kolaboratif Prof. Dr. Sri Rustiyanti, M.Sn. dan Dr. Wanda Listiani, M.Ds. yang mengangkat hubungan antara kearifan lokal, folklor, tradisi pencak silat, dan ekspresi estetika dalam seni rupa kontemporer.
Dalam pertemuan di sela pembukaan pameran, Sri Rustiyanti dan Wanda Listiani menjelaskan bahwa karya-karya yang dipamerkan merupakan hasil penelitian yang mengkaji berbagai bentuk pengetahuan budaya yang hidup di masyarakat. Pengetahuan tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam medium visual melalui pendekatan artistik yang memadukan metode penelitian dan proses kreatif.
Menurut keduanya, eksplorasi medium dan praktik artistik dalam riset kolaboratif tersebut merefleksikan hubungan erat antara kearifan lokal, folklor, dan ekspresi estetika masyarakat Indonesia. Melalui karya seni, hasil penelitian tidak hanya disajikan dalam bentuk akademik, tetapi juga dapat diakses dan dipahami oleh publik yang lebih luas.
Sejumlah karya yang ditampilkan memperlihatkan bagaimana gerak, simbol, nilai-nilai kepahlawanan, ketahanan, dan identitas budaya dalam tradisi pencak silat dapat diterjemahkan menjadi bahasa visual yang komunikatif. Pendekatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa seni dapat berfungsi sebagai media dokumentasi budaya, edukasi, dan penguatan identitas bangsa.
Sri Rustiyanti mengatakan bahwa penelitian yang dilakukan tidak berhenti pada penciptaan karya seni, tetapi juga diarahkan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Baca Juga:Warga Sambut Aktifnya Kembali Bandara Husein Sastranegara
“Kehadiran Ibu Melly Goeslaw dan Ibu Nurul Arifin menjadi momentum penting bagi kami akademisi dan perupa untuk terus memproduksi pengetahuan dan luaran penelitian yang berdampak untuk masyarakat, khususnya atlet pencak silat Indonesia,” ujar Sri Rustiyanti.
Ia menyampaikan hal tersebut di tengah kesibukannya mendampingi dosen yang akan dipromosikan menjadi Guru Besar tahun ini, yakni Dr. Wanda Listiani, M.Ds., melalui Skema Penugasan Guru Besar yang didanai melalui DIPA Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.
Menurut Sri Rustiyanti, hasil penelitian yang diwujudkan dalam karya seni memiliki potensi untuk memperluas pemahaman masyarakat mengenai nilai-nilai budaya yang terkandung dalam pencak silat, sekaligus memperkuat posisi pencak silat sebagai warisan budaya Indonesia yang telah diakui dunia.
Sementara itu, Wanda Listiani menegaskan bahwa seni berbasis penelitian memungkinkan terjadinya dialog antara pengetahuan akademik dan pengalaman masyarakat. Melalui pendekatan tersebut, hasil riset tidak hanya tersimpan dalam laporan ilmiah, tetapi hadir dalam bentuk karya yang mampu membangun kesadaran budaya dan mendorong partisipasi publik.
Pameran Nawasena dibuka oleh Anggota DPR RI Komisi X, Melly Goeslaw, pada 1 Juni 2026 dan mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, termasuk Anggota DPR RI Komisi I Nurul Arifin serta Ketua LPPM ISBI Bandung Prof. Dr. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum. Melalui berbagai karya yang ditampilkan, Pameran Nawasena menunjukkan bahwa penelitian akademik dapat diterjemahkan menjadi karya seni yang komunikatif, reflektif, dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Dari penelusuran jejak Bujangga Manik hingga penguatan nilai-nilai budaya pencak silat, pameran ini memperlihatkan bagaimana seni, penelitian, dan kebudayaan dapat berjalan beriringan untuk membangun masa depan yang lebih baik sebagaimana makna yang terkandung dalam nama Nawasena. (*)






