Sindojabar, Bandung – Film Siti Si Vampir menawarkan lebih dari sekadar hiburan komedi. Di balik kisah vampir dengan tingkah jenaka, film ini menyelipkan kritik sosial mengenai ketimpangan kelas, penyalahgunaan kekuasaan, serta perjuangan masyarakat kecil menghadapi kelompok elite.
Mengangkat kehidupan warga rumah susun (rusun) yang berhadapan dengan kelompok vampir berstatus sosial tinggi, film produksi Viddsee dan Bahagia Tanpa Drama ini menghadirkan potret kesenjangan sosial melalui pendekatan komedi satir yang dekat dengan realitas masyarakat Indonesia.
BACA JUGA: Film Harusnya Horror, Debut Reza Arap Tayang 20 Agustus 2026
Kisahnya berpusat pada Siti (Satine Zaneta), seorang penghuni rusun yang menjadi tulang punggung keluarga. Kehidupannya yang serba terbatas berubah setelah ia menjadi vampir akibat salah gigitan Nakula (Ciccio Manassero), sosok vampir tampan dari kalangan elite.
Alih-alih memperoleh kekuatan luar biasa, Siti justru menjadi vampir dengan kemampuan terbatas. Namun, perubahan tersebut ia pandang sebagai peluang untuk keluar dari kesulitan hidup yang selama ini membelenggunya.
Persoalan semakin rumit ketika rusun tempat tinggal Siti menjadi sasaran kelompok vampir untuk melakukan “panen”. Siti pun dihadapkan pada pilihan sulit: mengikuti sistem yang menempatkan kelompoknya sebagai pihak lemah atau melawan kekuatan yang lebih berkuasa.
Konflik tersebut menjadi pintu masuk bagi Siti Si Vampir untuk menyampaikan kritik terhadap relasi kuasa antara kelompok elite dan masyarakat akar rumput.
Sutradara Rahabi Mandra menghadirkan perspektif berbeda melalui sosok vampir. Jika selama ini film Indonesia banyak mengeksplorasi karakter hantu dan makhluk supranatural sebagai sumber ketegangan, Siti Si Vampir justru memanfaatkan vampir untuk membicarakan persoalan sosial.
Dalam film ini, perbedaan antara kehidupan vampir elite dan warga rusun menjadi gambaran mengenai kesenjangan kekuasaan. Kelompok yang memiliki sumber daya dan privilese lebih besar digambarkan berada dalam posisi dominan, sedangkan masyarakat kecil menghadapi keterbatasan dalam menentukan nasib mereka sendiri.
Pemeran Dudi, Ajil Ditto, menilai situasi tersebut merefleksikan kondisi ketika pihak yang memiliki kekuatan lebih besar merasa berhak mengendalikan kehidupan kelompok di bawahnya.
“Kita melihat orang-orang yang jauh lebih powerful, yang di film ini diwakili oleh kaum vampir, merasa memiliki kuasa penuh atas orang-orang di bawahnya, yaitu warga rusun tempat Siti dan Dudi tinggal. Sementara itu, orang-orang di bawah tidak dapat berbuat banyak,” ungkap Ajil Ditto di Bandung, Senin malam (19/10/2026).
Persoalan ini membuat cerita Siti Si Vampir tidak hanya bertumpu pada kelucuan karakter atau situasi absurd yang mereka hadapi. Film ini juga mengajak penonton melihat bagaimana ketimpangan kekuasaan dapat membatasi ruang gerak masyarakat yang tidak memiliki privilese.
Melalui dunia vampir, persoalan tersebut dikemas dalam cerita ringan tanpa kehilangan relevansinya dengan kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Satine Zaneta tampil dengan karakter berbeda melalui perannya sebagai Siti. Ia memerankan seorang penghuni rusun yang harus bekerja keras untuk menghidupi keluarga sekaligus mencari jalan guna memperbaiki kehidupannya.
Karakter Siti menggambarkan pergulatan anak muda yang berusaha keluar dari keterbatasan ekonomi. Di tengah tekanan hidup, keinginan untuk mengubah nasib terkadang membuat seseorang melihat perubahan sekecil apa pun sebagai kesempatan untuk meraih kehidupan yang lebih baik.
Situasi tersebut menjadi semakin menarik ketika Siti justru memperoleh kesempatan melalui perubahan dirinya menjadi vampir. Namun, kekuatan yang dimilikinya tidak sebanding dengan kelompok vampir elite yang dihadapinya.
Kontras tersebut menjadi sumber komedi sekaligus sindiran. Di tengah sistem yang tidak setara, keinginan untuk mengubah nasib ternyata tidak selalu cukup untuk menghapus hambatan yang telah terbentuk.
Selain persoalan ekonomi, film ini turut menyoroti fenomena anak muda yang ingin meraih popularitas di tengah budaya pamer atau flexing di media sosial. Melalui karakter Siti dan Stella yang diperankan Shania Gracia, cerita ini menyentuh keinginan untuk terlihat berhasil di tengah tekanan kehidupan modern.
“Film Siti Si Vampir menghadirkan komedi yang menghibur, dengan kisah anak muda yang berjuang di tengah kerasnya kehidupan. Melalui komedi satir, drama anak perempuan dan ayah tunggal, serta kehidupan warga rusun yang berhadapan dengan vampir elite, film ini terasa relevan dengan berbagai dinamika kehidupan,” ujar Satine Zaneta.
Perjuangan Siti juga memperlihatkan bahwa persoalan sosial tidak selalu hadir dalam bentuk konflik besar. Tekanan ekonomi, tanggung jawab terhadap keluarga, dan keinginan mendapatkan pengakuan dapat menjadi bagian dari pergulatan sehari-hari yang dialami banyak orang.
Di balik kritik sosial yang diusung, Siti Si Vampir tetap mengandalkan komedi sebagai daya tarik utama. Interaksi spontan antarpemain menjadi salah satu unsur penting dalam membangun kelucuan yang terasa alami.
Satine Zaneta mengungkapkan bahwa chemistry dengan lawan mainnya, Dwi, terbentuk tanpa proses perkenalan panjang sebelum produksi dimulai. Keduanya baru benar-benar bertemu pada hari pelaksanaan syuting.
Pertemuan tersebut ternyata menghasilkan kecocokan dalam membangun percakapan dan adegan komedi. Interaksi yang mengalir secara spontan membantu para pemain menemukan ritme permainan tanpa harus memaksakan humor.
Meski demikian, membangun komedi di depan kamera bukan perkara mudah. Para pemain harus memperhatikan ketepatan waktu dalam menyampaikan lelucon, ekspresi, hingga jeda antardialog agar adegan dapat memancing tawa penonton.
Tantangan tersebut semakin terasa karena sejumlah pemeran utama menjajal genre komedi sebagai pengalaman baru. Mereka bahkan kerap mempertanyakan apakah adegan yang telah direkam benar-benar lucu dan mampu menghibur penonton.
Pendekatan sutradara yang mendorong pemain membawakan karakter secara alami menjadi penting. Dengan demikian, kelucuan dapat muncul dari situasi dan interaksi antartokoh, bukan semata-mata dari dialog yang sengaja dibuat untuk mengundang tawa.
Ciccio Manassero, pemeran Nakula, mengaku naskah film ini sudah terasa menghibur sejak pertama kali dibaca. Namun, tantangan sesungguhnya muncul ketika materi tersebut harus diwujudkan melalui akting di depan kamera.
Dalam cerita, Nakula merupakan vampir elite yang tampil dingin dan elegan. Di balik penampilannya yang minim ekspresi, karakternya juga memiliki persoalan keluarga, termasuk perjuangannya menghadapi sang ibu demi Siti.
“Sebagai sosok vampir dalam film ini, saya mewakili kelompok elite sehingga harus tampil elegan dan tetap tenang. Ada sisi yang menyentuh dalam relasi karakter saya dengan sang ibu, terutama ketika Nakula memperjuangkan Siti di hadapan ibunya. Itulah perjuangan Nakula,” ujar Ciccio Manassero.
Hubungan antarkarakter tersebut memperkaya cerita dengan konflik keluarga yang berjalan beriringan dengan persoalan ketimpangan sosial.
Mengajak Penonton Tertawa sekaligus Berefleksi
Kehadiran unsur keluarga membuat Siti Si Vampir tidak hanya berbicara tentang pertentangan antara kelompok elite dan masyarakat kecil. Film ini juga mengangkat hubungan orang tua dan anak, tanggung jawab keluarga, serta pilihan-pilihan sulit ketika seseorang dihadapkan pada tekanan hidup.
Melalui karakter-karakternya, film ini memperlihatkan bahwa status sosial dan kemewahan tidak otomatis menjadikan seseorang lebih baik. Sebaliknya, kepedulian, solidaritas, dan semangat saling membantu dapat tumbuh kuat di tengah masyarakat yang hidup dengan berbagai keterbatasan.
Pesan tersebut menjadi salah satu landasan kritik sosial yang disampaikan melalui komedi. Penonton diajak menikmati cerita tanpa kehilangan kesempatan untuk merenungkan persoalan yang lebih luas.
Di tengah kehidupan yang kerap menempatkan kekayaan dan popularitas sebagai tolok ukur keberhasilan, film ini mengingatkan bahwa nilai seseorang tidak semata-mata ditentukan oleh status maupun privilese yang dimilikinya.
Special screening film Siti Si Vampir di Empire XXI Bandung dan Ubertos XXI turut menghadirkan keceriaan bagi penonton. Satine Zaneta, Ciccio Manassero, dan Ajil Ditto hadir menyapa penonton sebelum film tersebut dirilis secara serentak di bioskop Indonesia.
Diproduksi oleh Viddsee dan Bahagia Tanpa Drama bekerja sama dengan AZ Films, Spectrum Film, dan PK Films, film ini disutradarai Rahabi Mandra dengan produser Kenny Png dan Celerina Judisari. Selain Satine Zaneta, Ciccio Manassero, dan Ajil Ditto, film ini juga dibintangi Shania Gracia, Nugie, dan Kimberly Ryder.
Siti Si Vampir dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 22 Oktober 2026.
Melalui perpaduan komedi, drama keluarga, dan satir sosial, film ini berupaya menghadirkan hiburan yang tidak berhenti pada tawa. Kisah Siti dan warga rusun juga menjadi pengingat bahwa di tengah perbedaan kelas dan kekuatan, kepedulian serta keberanian melawan ketidakadilan tetap memiliki arti penting.






