Disdik Bandung Ungkap 7.893 Anak Masih Tak Sekolah, 80 Persen Terkendala Ekonomi

SindoJabar, BANDUNG – Sebanyak 7.893 anak di Kota Bandung masuk kategori Anak Tidak Sekolah (ATS). Faktor ekonomi menjadi penyebab utama mereka tidak mengenyam pendidikan, dengan proporsi mencapai sekitar 80 persen dari total ATS yang saat ini masih menjadi sasaran penanganan Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung.

Jumlah tersebut merupakan hasil verifikasi dan pemutakhiran data yang dilakukan Disdik terhadap data awal Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) yang sebelumnya mencatat hampir 17.000 ATS.

Baca Juga:Ketua DPRD Bandung Dorong Pemkot Lebih Responsif Menangani Persoalan Masyarakat

Kepala Disdik Kota Bandung Asep Saeful Gufron mengatakan, proses verifikasi menemukan sejumlah data yang tidak lagi memenuhi kriteria. Di antaranya anak yang bukan warga Kota Bandung, telah meninggal dunia, pindah domisili, maupun sudah menempuh pendidikan di pesantren.

Dari hasil verifikasi tersebut, sebanyak 1.523 anak diketahui bukan warga Kota Bandung sehingga dikeluarkan dari daftar. Setelah seluruh proses pemutakhiran dilakukan, jumlah ATS yang valid dan masih perlu ditangani tercatat sebanyak 7.893 orang.

“Betul, dari data awal yang sempat tercatat sekitar 17.000-an, setelah diverifikasi ulang dan dibersihkan, data yang valid saat ini adalah 7.893 orang,” kata Asep, Senin (2/11/2026).

Baca Juga:Disdik Kota Bandung Imbau Orang Tua Persiapkan SPMB Sejak Dini

Asep menjelaskan, Pemkot Bandung menargetkan seluruh anak yang masuk kategori ATS dapat kembali mengakses pendidikan paling lambat pada 2028. Salah satu upaya yang ditempuh yakni melalui jalur pendidikan kesetaraan, mulai dari Paket A, Paket B, hingga Paket C.

Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil. Sepanjang tahun lalu, Disdik Kota Bandung berhasil meluluskan sekitar 1.200 anak melalui program pendidikan kesetaraan. Jumlah tersebut merupakan capaian tersendiri dan tidak termasuk dalam 7.893 ATS yang saat ini masih menjadi sasaran penanganan.

“Alhamdulillah, pada tahun lalu kita berhasil meluluskan sekitar 1.200 orang melalui jalur pendidikan kesetaraan, baik Paket A, Paket B, maupun Paket C. Kita menargetkan pada tahun 2028 semua sudah bisa terakomodir,” katanya.

Asep mengungkapkan, persoalan ekonomi menjadi faktor paling dominan yang menyebabkan anak tidak melanjutkan pendidikan. Berdasarkan pemetaan Disdik, sekitar 80 persen ATS di Kota Bandung berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi kurang mampu.

Baca Juga:Kisruh Penerimaan Siswa Baru, Ratnawati Minta Disdik Jabar Lebih Transparan

Sebagian anak terpaksa bekerja untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Ada pula yang tidak melanjutkan sekolah karena minimnya dukungan orang tua sehingga akhirnya bekerja serabutan.

“Yang paling dominan memang karena faktor ekonomi. Sekitar 80 persen, tidak sampai 90 persen,” ungkapnya.

Untuk mengatasi persoalan tersebut, Disdik terus berkoordinasi dengan aparat kewilayahan, mulai dari tingkat kecamatan, kelurahan hingga RT dan RW. Pendekatan ini dilakukan untuk mendorong orang tua agar kembali memberikan akses pendidikan kepada anak-anak mereka, terutama melalui jalur pendidikan kesetaraan.

Menurut Asep, pendidikan kesetaraan menjadi salah satu solusi bagi anak-anak yang terkendala mengikuti pendidikan formal. Selain tidak dipungut biaya, program tersebut memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk memperoleh ijazah yang sah hingga jenjang Paket C.

Baca Juga:Asep Robin Dorong Pemkot Bandung Hadirkan Pendampingan Hukum untuk Masyarakat Kecil

“Yang penting anak tetap bisa bersekolah sampai Paket C. Nanti kalau suatu saat ingin melanjutkan ke perguruan tinggi, ia sudah memiliki sertifikat yang sah,” ucapnya.

Dalam penanganannya, Disdik juga telah memetakan kecamatan dengan jumlah ATS terbanyak. Program pengembalian anak ke dunia pendidikan akan dioptimalkan melalui Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Asep menambahkan, ATS di Kota Bandung berasal dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari anak yang putus sekolah di tingkat SD hingga SMP. Khusus anak-anak yang putus sekolah pada jenjang SD, Disdik mulai melakukan pendekatan agar mereka kembali mengikuti kegiatan belajar.

“Untuk anak-anak yang tingkat SD, saat ini sudah mulai kami ajak kembali bersekolah, dan sebagian sudah mulai masuk,” pungkasnya. (*YM)