sindojabar.com – Di tengah kondisi darurat akibat bencana yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera, LAZ IBS Foundation menginisiasi gerakan kolaborasi kemanusiaan dengan melibatkan berbagai pihak lintas sektor.
Mulai dari komunitas, brand, influencer, hingga lembaga, seluruh elemen digerakkan untuk mempercepat penghimpunan dan penyaluran bantuan bagi warga terdampak.
Penggalangan dana dan bantuan kemanusiaan ini telah berjalan sejak 8 Desember 2025 dan hingga kini masih terus berlanjut.
Baca Juga: IBS Foundation Resmi Kantongi SK LAZ Provinsi, Pengelolaan Zakat Semakin Terpercaya
Kolaborasi tersebut menjadi strategi penting untuk memperluas jangkauan distribusi, terutama ke wilayah-wilayah yang terisolir akibat rusaknya infrastruktur pascabencana.
Sejak awal respons, LAZ IBS Foundation telah menyalurkan beragam bantuan esensial, mulai dari sembako dan bahan pangan pokok, air bersih, pakaian layak pakai, kelambu, hygiene kit, makanan hewan ternak, hingga pembangunan masjid darurat dan dapur umum.
Seluruh upaya ini dilakukan sebagai langkah cepat menjaga ketahanan warga di tengah krisis akses pangan dan kebutuhan dasar.
Baca Juga: IBS Foundation Borong 3 Penghargaan di Ajang Zakat Awards 2025
Distribusi Bantuan Menembus 11 Desa Terisolir
Puncak distribusi kolaborasi kemanusiaan ini dilakukan pada 24 Desember 2025. Bantuan mulai disalurkan ke dapur umum yang melayani 11 desa terisolir, di antaranya Pantan Bener, Atu Singkih, Rusip Antara, hingga Kerawang.
Proses distribusi dilakukan secara bertahap dengan menyesuaikan kondisi medan yang masih sulit, akibat jalan terputus dan jembatan rusak.
Rasyid Nur, Tim Program Development IBS Foundation, mengungkapkan bahwa keterbatasan akses menjadi tantangan utama di lapangan.
Baca Juga: IBS Foundation Gelar Santriversary 4.0, Dorong Kreativitas dan Pemberdayaan Santri di Era Digital
Menurutnya, jarak antarwilayah yang relatif dekat tetap membutuhkan waktu tempuh cukup lama.
“Saat menyalurkan 2 ton beras dari Kecamatan Silih Nara ke posko di Kecamatan Rusip Antara, jaraknya sekitar 15 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 30 menit sekali jalan,” ungkap Rasyid melalui keterangan tertulis WhatsApp.
Keterbatasan infrastruktur tersebut turut berdampak pada melonjaknya harga kebutuhan pokok serta tingginya biaya logistik. Namun demikian, semangat gotong royong masyarakat tetap terjaga.
Baca Juga: IBS Foundation Buka Santriversary: Dorong Kemandirian Pangan Pesantren
Warga bersama relawan bahu-membahu membangun jembatan darurat dari kayu demi membuka kembali akses distribusi bantuan.
“Akses menuju beberapa desa saat ini hanya dapat dilalui kendaraan roda dua, bahkan sebagian harus melalui jalur darurat buatan warga,” tambahnya.
Kolaborasi antara lembaga kemanusiaan, relawan, influencer, komunitas, brand, dan masyarakat menjadi kunci utama agar bantuan terus menjangkau wilayah-wilayah paling terdampak.
Baca Juga: Maybank Syariah dan IBS Foundation Wujudkan Kepedulian Sosial Lewat 77 Filter Air Minum
Sejumlah pihak yang turut terlibat dalam kolaborasi ini di antaranya Amalsholeh.com, Ciomy, dan Jamise Syari.
Melalui sinergi lintas sektor tersebut, LAZ IBS Foundation berharap semangat kemanusiaan dapat terus terjaga, sekaligus memastikan bahwa warga terdampak bencana di Sumatera tidak berjalan sendiri dalam menghadapi masa sulit. (dsp)








