SindoJabar, BANDUNG – Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) menginvestigasi dugaan keracunan makanan yang dialami sejumlah pengunjung restoran Korea 88 Seoul di Paskal 23, Kota Bandung.
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, pemeriksaan dilakukan langsung di lokasi untuk mengecek kondisi sanitasi, higiene, serta alur pengolahan dan penyimpanan makanan.
“Dinas Kesehatan bersama DKPP telah melakukan pemeriksaan langsung di lokasi. Area yang diperiksa meliputi tempat penyimpanan, jarak antara bahan makanan basah dan kering, peralatan bersih dan kotor, bahan pembersih kimia, hingga tempat sampah atau bahan kotor,” kata Farhan di Grandia Hotel Kota Bandung, Rabu (7/10/2026).
Dari pemeriksaan tersebut, ditemukan sejumlah fasilitas dan prosedur yang masih perlu diperbaiki. Salah satunya alur dapur yang dinilai masih memerlukan perhatian.
Meski pintu masuk dan keluar dapur telah terpisah, area pencucian juga menjadi perhatian karena berpotensi menimbulkan kontaminasi bahan makanan dari sabun maupun peralatan pencucian.
Baca Juga: Viral! Dugaan Keracunan Massal di 88 Seoul Paskal Bandung, Dinkes Turun Investigasi
Keamanan Pangan Perlu Dibenahi
Selain itu, pengaturan sistem First In, First Out (FIFO) pada bahan makanan beku belum jelas. Tempat penyimpanan makanan dingin juga diwajibkan dilengkapi alat pengukur suhu.
“Minyak goreng bekas ditemukan dalam keadaan tidak tertutup. Bahan kimia juga harus disimpan dalam wadah atau kontainer yang tertutup,” katanya.
Dari sisi higiene petugas, penjamah makanan belum menggunakan masker. Sementara dari standar operasional, restoran belum memiliki bank sampel makanan. Kemasan produk juga belum dilengkapi keterangan tanggal kedaluwarsa atau expiry time.
Namun, tidak seluruh aspek mendapat catatan. General cleaning restoran dinilai sudah baik, sementara tempat sampah telah menggunakan sistem pedal kaki.
Farhan mengatakan, sejumlah temuan tersebut saat ini sedang dalam proses perbaikan oleh pihak restoran.
Selain memeriksa kondisi restoran, Dinkes masih melakukan investigasi untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan yang dialami pengunjung.
Petugas juga memantau kondisi kesehatan orang yang dilaporkan mengalami gangguan kesehatan serta bekerja sama dengan rumah sakit untuk mendata identitas pasien dan dokter yang memberikan diagnosis.
Baca Juga: Kasus Dugaan Keracunan di Bandung Bertambah, Dinkes: Ada Higiene yang Perlu Diperbaiki
Kasus Keracunan Masih Diinvestigasi
“Petugas terus melakukan investigasi jika ada temuan kasus baru serta memantau kondisi kesehatan para korban yang dilaporkan,” ucapnya.
Dinkes juga tengah menyusun analisis hipotesis penyebab dugaan keracunan. Perkembangan kasus selanjutnya akan dilaporkan kepada Dinkes Provinsi Jawa Barat.
Selain itu, Pemkot Bandung juga tengah memverifikasi informasi yang beredar di media sosial, termasuk klaim jumlah korban yang mencapai sekitar 280 orang.
Farhan menegaskan, jumlah tersebut belum dapat dipastikan karena masih dalam proses verifikasi oleh Dinkes.
“Ya makanya perlu diverifikasi. Saya belum tahu persis, tapi itu sedang diverifikasi. Betul enggak segitu,” jelasnya.
Baca Juga: Ini Tangapan Pengelola Restoran Korea terkait Ratusan Orang Diduga Keracunan Makanan di Mal Paskal
Menurutnya, setiap laporan kasus baru akan terus ditelusuri. Pemkot juga akan memantau kondisi kesehatan warga yang dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah makan di restoran tersebut.
“Kalau memang ada pengaduan, kenapa masih ada yang datang ke sana? Kita ingin tahu. Kita selidiki dulu apa yang membuat sehingga kita akan datangi terus setiap hari untuk memastikan apakah ada kasus baru atau tidak,” ungkapnya.
Farhan menambahkan, pendataan pasien dan dokter yang memberikan diagnosis diperlukan untuk memastikan setiap laporan dapat diverifikasi secara medis.
“Kalau saya bilang saya keracunan makan di restoran A karena kata si dokter B, maka saya mesti diidentifikasi, restoran A-nya diidentifikasi, dokter B-nya yang memberikan diagnosis harus diidentifikasi dan memberikan pertanggungjawaban medis,” jelasnya.
Untuk memastikan jenis kontaminasi, sampel makanan dari restoran tersebut saat ini tengah menjalani pemeriksaan laboratorium melalui proses kultur.
Farhan mengatakan, pemeriksaan membutuhkan waktu mulai dari beberapa jam hingga beberapa hari. (*YM)






