Gerakan Solidaritas Mahasiswa ITB untuk Bencana NTT

SindoJabar, BANDUNG – Gerakan Mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) turut menunjukkan solidaritas terhadap korban gempa bumi yang melanda Nusa Tenggara Timur (NTT) beberapa waktu lalu. Aksi tersebut menjadi bentuk kepedulian mahasiswa ITB terhadap masyarakat yang terdampak bencana.

Presiden KM ITB, Nahdah Nabillah, mengatakan keterlibatan mahasiswa dalam respons tersebut didorong oleh kepedulian terhadap masyarakat terdampak dan keinginan untuk menerjemahkan kepedulian tersebut menjadi aksi nyata.

“Berawal dari inisiasi Kemenko Sosmas KM ITB yang kemudian berkomunikasi dengan pihak-pihak lain di ITB di level rektorat dan juga Rumah Amal Salman. Dorongan terbesar tentunya karena panggilan kemanusiaan, khususnya bagi mahasiswa-mahasiswa ITB yang merupakan bagian dari masyarakat itu sendiri sehingga kepedulian bertransformasi jadi aksi nyata yang perlu diwujudkan dalam kontribusi langsung membersamai saudara-saudara di NTT,” ujar Nahdah dalam keterangan tertulisnya, Kamis (10/9/2026).

Baca Juga: Pegadaian dan ITB Jalin Riset Inovatif, Percepat Digitalisasi Layanan

Untuk memperluas dukungan, KM ITB mengonsolidasikan berbagai organisasi mahasiswa dalam penggalangan bantuan bagi masyarakat terdampak. Bantuan yang dihimpun oleh organisasi mahasiswa kemudian disalurkan melalui KM ITB sebagai bagian dari gerakan ITB Peduli NTT.

Kemenko Sosmas KM ITB, Arfa, menjelaskan bahwa keterlibatan KM ITB menjadi wadah bagi organisasi mahasiswa yang ingin menyalurkan bantuan yang telah dihimpun dari anggotanya masing-masing.

“Inisiatif dari stakeholder ormawa terkait penggalangan dana pun dapat dirasakan. Keterlibatan KM ITB di ITB Peduli kami jadikan sebagai wadah bagi ormawa untuk menyalurkan bantuan yang telah dikumpulkan dari anggotanya masing-masing,” ungkap Arfa.

Selain mengoordinasikan dukungan dari organisasi mahasiswa, lima orang perwakilan KM ITB turut mendampingi Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI Prof. Brian Yuliarto saat berada di lapangan. Pendampingan tersebut dilakukan untuk memetakan kebutuhan di lokasi terdampak sekaligus memperkuat hubungan dengan BEM dari beberapa perguruan tinggi di NTT.

Konsolidasi tersebut menjadi salah satu bagian dari proses mahasiswa untuk memahami kebutuhan di lapangan sekaligus menghubungkan dukungan dari lingkungan kampus dengan respons yang dilakukan di wilayah terdampak.

Baca Juga: Kunjungi NTT, Menko AHY Dorong Percepatan Infrastruktur dan Sertifikasi Tanah Transmigran

Dari Kampus hingga Turun ke Lapangan

Keterlibatan mahasiswa kemudian berkembang tidak hanya dalam bentuk penggalangan bantuan, tetapi juga melalui partisipasi langsung dalam respons di wilayah terdampak. Sejumlah mahasiswa ITB bergabung dalam Tim ITB Peduli NTT Kloter 2 untuk membantu pelaksanaan kegiatan di lapangan.

Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari keberlanjutan respons ITB Peduli NTT yang sebelumnya telah melakukan berbagai kegiatan untuk mendukung masyarakat terdampak di Kabupaten Manggarai Timur.

Hingga 31 Agustus 2026, tiga Instalasi Pengolahan Air (IPA) telah terpasang di RS Lapangan Dampek, lokasi pengungsian Ronting, dan lokasi pengungsian Pota. Selain itu, sebanyak 21 unit shelter keluarga dan shelter komunal telah terpasang di sejumlah lokasi.

Di Ronting, Desa Satar Kampas, tiga kelompok masyarakat juga telah disiapkan untuk melanjutkan pembangunan Tenda Keluarga. Pelibatan masyarakat tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong warga untuk turut mengambil peran dalam proses pemulihan di wilayahnya.

Melihat Kondisi Masyarakat dari Dekat

Bagi mahasiswa yang terlibat dalam Tim ITB Peduli NTT Kloter 2, keterlibatan di lapangan memberikan kesempatan untuk melihat secara langsung kondisi masyarakat setelah bencana.

Asa, mahasiswa yang tergabung dalam relawan ITB Peduli NTT Kloter 2, menceritakan bahwa sepanjang perjalanan menuju lokasi tempat tinggal warga banyak yang roboh. Fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) yang terbatas serta kebutuhan makanan yang hanya bisa dipenuhi melalui dapur-dapur komunal yang dikelola warga.

Baca Juga: SBM ITB Industrial Summit 2026 Dorong Transformasi Ekonomi di Era Teknologi

Meski berada dalam situasi pascabencana, Asa melihat masyarakat tetap ramah dan menjaga kehidupan sosial yang rukun. Suasana pengungsian juga terasa hidup karena banyak anak-anak yang beraktivitas di sekitar lokasi. Namun, gempa susulan masih kerap dirasakan warga, bahkan hingga lima kali dalam sehari.

“Warganya ramah-ramah banget. Jujur, aku sangat merasakan vibes kampung yang rukun dan suasananya hidup karena banyak anak-anak juga. Tapi, di sini sering banget gempa sampai sekarang, bisa sampai lima kali sehari dan gempanya terasa banget,” ujar Asa.

Selama berada di lapangan, mahasiswa turut membantu dalam pembangunan puskesmas sementara, kebutuhan hunian sementara juga menjadi perhatian penting. Banyak rumah warga yang roboh, sementara warga yang rumahnya masih berdiri pun mengalami trauma untuk kembali tinggal di dalam rumah. Karena itu, tenda keluarga dan shelter menjadi salah satu kebutuhan yang paling mendesak di lapangan. Keterlibatan tersebut mempertemukan gerakan solidaritas yang sebelumnya dilakukan di lingkungan kampus dengan kebutuhan masyarakat yang dihadapi secara langsung di wilayah terdampak.

Bagi Asa, mahasiswa dapat berperan sebagai kolaborator masyarakat melalui pertukaran pengetahuan. Mahasiswa dapat memberikan wawasan sesuai bidang masing-masing, sekaligus memperoleh pengetahuan dari warga lokal, terutama mengenai berbagai hal teknis yang berkaitan dengan kondisi dan kebutuhan di lapangan.

Keterlibatan mahasiswa ITB dalam respons bencana di NTT berkembang dari gerakan di lingkungan kampus menjadi aksi yang terhubung langsung dengan kebutuhan masyarakat di lapangan. Konsolidasi organisasi mahasiswa dan penggalangan bantuan menjadi bagian awal dari gerakan yang kemudian dilanjutkan dengan keterlibatan mahasiswa dalam Tim ITB Peduli NTT Kloter 2.

Melalui rangkaian tersebut, mahasiswa tidak hanya mengambil bagian dalam menghimpun dukungan, tetapi juga turut hadir dalam pelaksanaan respons kemanusiaan dan berinteraksi langsung dengan masyarakat terdampak.

Rencana kontribusi lanjutan segera disiapkan melalui pengiriman rombongan mahasiswa dalam kolaborasi dengan program Aksara Mahasiswa Berdampak Kemendikti. Keterlibatan ini menjadi bagian dari upaya mempercepat distribusi bantuan serta pembangunan shelter keluarga bagi masyarakat terdampak.

Keterlibatan mahasiswa dalam respons ITB Peduli NTT menjadi bagian dari gerakan solidaritas kampus yang menghubungkan kepedulian, konsolidasi, dukungan, hingga kontribusi langsung bagi masyarakat terdampak bencana. (*)