SindoJabar, BANDUNG – Pemkot Bandung mulai membenahi sistem operasional angkutan kota (angkot) dengan menyiapkan perubahan model bisnis pengelolaan pengemudi.
Skema setoran harian yang selama ini membuat sopir berlomba mencari penumpang ditargetkan berganti menjadi sistem penggajian agar layanan angkot lebih tertib, aman, dan terintegrasi dengan transportasi massal.
Baca Juga:Ekonomi Digital Makin Gurih, Setoran Pajak ke Negara Capai Rp58,75 Triliun
Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, pembenahan tersebut menjadi bagian dari pengembangan sistem integrasi angkot bersama Institut Teknologi Bandung (ITB) yang kini mulai memasuki tahap uji coba.
Program tersebut memiliki dua tujuan utama, yakni menjadikan angkot sebagai transportasi pengumpan (feeder) bagi angkutan massal serta menyediakan alternatif transportasi bagi anak-anak, khususnya pelajar yang hendak berangkat ke sekolah.
Farhan menilai, salah satu persoalan mendasar yang harus diselesaikan adalah perubahan model bisnis angkot agar tidak lagi bergantung pada sistem setoran harian.
Baca Juga:Sopir Lansia Diduga Mengantuk, Toyota Rush Hantam Pembatas Jalan di Dago Bandung
Menurutnya, sistem setoran membuat pengemudi cenderung berlomba mendapatkan penumpang demi memenuhi target peny4gvdrrdapatan. Karena itu, ia menginginkan pola pengelolaan melalui sistem penggajian sehingga pengemudi tidak perlu lagi bersaing mencari penumpang di jalan.
“Bisnis model yang ideal adalah sopir angkotnya tidak mengejar setoran. Sopir angkotnya harus kita gaji. Ini yang kelihatannya masih belum ditemukan,” kata Farhan, Jumat (6/11/2026).
Farhan menjelaskan, pengembangan sistem integrasi angkot bersama ITB saat ini masih berada pada tahap beta atau eksperimen. Uji coba dilakukan untuk mengidentifikasi berbagai kekurangan dan persoalan di lapangan sebelum sistem diterapkan secara lebih luas.
Menurutnya, proses evaluasi perlu dilakukan sejak dini agar penyempurnaan sistem tidak berbenturan dengan rencana pengoperasian Bus Rapid Transit (BRT) di Kota Bandung. Ia menargetkan integrasi angkot sudah siap sebelum layanan BRT mulai beroperasi.
Baca Juga:Satu Tahun Bandung Utama: Kolaborasi Jadi Kunci, Akselerasi Pengurangan Sampah dari Sumber
“Jangan sampai BRT sudah jadi dan beroperasi, tetapi sistem ini masih percobaan. Mumpung BRT belum operasional kita manfaatkan waktu untuk memperbaiki sistemnya,” jelasnya.
Selain pembenahan operasional, Pemkot Bandung juga mengupayakan integrasi informasi perjalanan angkot dengan Google Maps. Melalui sistem tersebut, masyarakat nantinya dapat mengetahui pilihan angkot menuju lokasi tujuan, termasuk perkiraan waktu kedatangan kendaraan.
Farhan mengungkapkan, integrasi tersebut membutuhkan keterlibatan aktif para pengemudi. Setiap sopir angkot diharapkan menggunakan aplikasi yang terhubung dengan sistem sehingga posisi kendaraan dapat diketahui calon penumpang secara langsung.
“Kalau bisnis modelnya benar, semua aplikasi ini akan terhubung dengan Google. Setiap sopir angkot memegang aplikasinya. Jadi, ketika masyarakat membuka Google Maps dan memilih tujuan akan terlihat angkot yang tersedia serta perkiraan waktu kedatangannya,” ungkapnya.
Selama masa uji coba, Pemkot Bandung akan mengevaluasi pola perjalanan dan kebutuhan armada. Hasil evaluasi tersebut menjadi dasar penyempurnaan sistem bersama ITB dan pihak terkait. Selain kemudahan akses, aspek keamanan juga menjadi perhatian dalam pembenahan layanan angkot.
Baca Juga:Pilkades Hybrid di Indramayu Jadi Model Baru Demokrasi Desa
Farhan menegaskan, pemerintah memiliki tanggung jawab memastikan transportasi publik aman, terutama bagi empat kelompok rentan, yakni anak-anak, perempuan, lanjut usia, dan penyandang disabilitas.
Farhan memahami masih adanya kekhawatiran orang tua untuk membiarkan anak-anak menggunakan angkot secara mandiri. Kondisi tersebut membuat sebagian orang tua memilih mengantar anak menggunakan kendaraan pribadi yang pada akhirnya turut menambah kepadatan lalu lintas.
“Pemerintah harus memastikan rasa aman itu hadir. Kalau masyarakat masih meragukan keamanannya, tugas kami adalah meningkatkan keamanan agar orang tua tidak lagi ragu membolehkan anak-anaknya naik angkot,” pungkasnya. (*YM)






