SindoJabar, BANDUNG – Generasi muda memegang peran strategis dalam mewujudkan transisi energi bersih di tingkat tapak. Termasuk dengan menjadikan rumah ibadah, seperti masjid sebagai pusat gerakan iklim.
Inisiatif berbasis komunitas ini sekaligus menjadi kontribusi nyata masyarakat dalam mendukung visi besar solarisasi masjid di Indonesia menuju target kontribusi 1 Gigawatt (GW) energi surya.
Berangkat dari semangat tersebut, Ruang Eskalasi bersama RUTE Berkeadilan Jawa Barat dan konsorsium NUUR+ menyelenggarakan NUUR+ Fest: “Let There Be Nuur” di Kota Bandung, Minggu (8/11/2026).
Festival ini mengintegrasikan literasi keberlanjutan dan spiritualitas. Sehingga acara fokus sebagai ruang aksi kolektif untuk menghimpun dukungan pengadaan instalasi panel surya bagi masjid di Jawa Barat.
COO Ruang Eskalasi Erland Fabian mengatakan, keterlibatan anak muda menjadi faktor penentu dalam keberhasilan transisi energi berbasis komunitas.
“Krisis iklim bukan hanya diskusi teknis di tingkat global, melainkan realitas yang berdampak langsung pada ruang hidup masyarakat, termasuk kita anak muda,” kata COO Ruang Eskalasi.
NUUR+ Fest Jembatan Inklusif
Melalui NUUR+ Fest, ujar Erland, Ruang Ekskalasi bersama mitra berupaya menghadirkan jembatan inklusif yang mempertemukan spiritualitas, kepedulian anak muda, dan aksi nyata.
“Kami menempatkan masjid sebagai katalis transisi energi berbasis komunitas. Setiap dukungan yang terkumpul dikonversi menjadi kemandirian listrik bersih yang berdampak jangka panjang bagi jemaah dan lingkungan,” ujar Erland.
Dia menuturkan, NUUR+ Fest adalah sebuah ikhtiar kolektif anak muda untuk mengambil bagian nyata dalam mendukung gerakan solarisasi masjid.
Tujuannya untuk mempercepat tercapainya harapan kontribusi 1 GW energi surya nasional, yang dimulai langsung dari atap-atap masjid.
Rangkaian program NUUR+ Fest diawali dengan sesi bincang inspiratif bertema “Our Earth, Our Responsibility” yang menghadirkan narasumber dari berbagai institusi penggerak lingkungan.
Direktur Wakaf Al Azhar Rayan Asa Luminaries menyoroti fungsi strategis masjid serta pentingnya reposisi filantropi Islam menuju keberlanjutan lingkungan.
“Kita memulai solarisasi dari masjid karena setiap hari umat Islam beraktivitas di sana. Riset dari Purpose juga menunjukkan bahwa pesan-pesan lingkungan dan keagamaan lebih mudah sampai ke masyarakat lewat media yang ditemui di masjid, baik khutbah Jumat maupun pengajian,” kata Rayan.
Perluas Makna Wakaf
Dia menekankan perlunya memperluas makna wakaf agar relevan dengan krisis iklim saat ini. “Zakat Infaq Sadaqah dan Wakaf (Ziswaf) memang bisa meringankan beban saudara kita yang terdampak. Namun bantuan yang bersifat konsumtif dan sementara tidak akan menyelesaikan masalah secara mendasar,” ujarnya.
Rayan menuturkan, wakaf adalah amanah dari publik yang di kelola oleh nadzir, dan amanah itu bukan milik pengelola, melainkan milik umat. Kepedulian terhadap iklim harus memperkuat konsep wakaf agar tidak hanya berhenti pada urusan tanah, masjid, atau musala. “Melainkan menyentuh transformasi gaya hidup berkelanjutan umat,” tutur Rayan.
Urgensi demokratisasi energi dan dorongan peran generasi muda turut di tegaskan oleh Koordinator ENTER Nusantara sekaligus Tim Sedekah Energi MOSAIC Reka Maharwati.
Reka Maharwati membedah potret ketergantungan energi nasional yang masih di dominasi bahan bakar fosil. “Di Indonesia, lebih dari 60 persen pasokan energi masih berasal dari PLTU batu bara. Opsi energi bersih melimpah, namun ketergantungan pada bahan bakar fosil dan kendala finansial menjadi tantangan utama transisi,” kata Reka Maharwati.
Menurut Reka, yang bisa kita lakukan hari ini adalah menahan laju krisis iklim agar tidak semakin parah. “Salah satunya lewat energi matahari yang melimpah dan terjangkau,” ujarnya.
Reka menambahkan, realisasi bauran energi baru terbarukan nasional saat ini baru mencapai kisaran 12–13 persen, masih jauh dari target yang di canangkan pemerintah.
Dorong Transisi Energi
“Melalui inisiatif NUUR+ ini, kami ingin membuktikan bahwa umat dan komunitas akar rumput mampu mengambil peran langsung dalam mendorong transisi energi. Gerakan ini tidak hanya menjawab kebutuhan riil masyarakat, tetapi juga berkelanjutan berkat kemandirian dan pengelolaan sumber daya berbasis warga,” tutur Reka.
Sementara, dari sudut pandang ekonomi berkelanjutan, Direktur Eksekutif Jaga Bumi Ecomart & Greenpreneur Hub Afif Aulia mengingatkan bahwa krisis lingkungan juga bersumber dari pola konsumsi harian masyarakat.
“Kerusakan bumi hari ini berakar dari gaya hidup, mulai dari jajanan hingga pakaian yang terus menghasilkan limbah tanpa terkelola. Sistem pengelolaan sampah terbuka (open dumping) yang masih banyak di adopsi menjadi cermin nyata ketidakpedulian kita,” kata Afif Aulia.
Dia menjelaskan inisiatif ekonomi sirkular merupakan langkah pertanggungjawaban moral terhadap kelestarian lingkungan.
“Jaga Bumi hadir sebagai ruang bagi artisan UMKM hijau yang sadar akan produksi ramah lingkungan dan pengurangan jejak karbon. Ini adalah ikhtiar kami untuk menebus rasa bersalah atas kerusakan bumi saat ini,” ujarnya.
Afif menuturkan, menjaga bumi adalah tanggung jawab kolektif yang berakar dari aksi sehari-hari dan pemberdayaan ekonomi sirkular hijau.
Masa Depan Energi Bersih
Selain dialog gagasan dan kajian ekospiritualitas, NUUR+ Fest juga menghadirkan musisi Panji Sakti. Serta ruang refleksi keagamaan bersama para pegiat dakwah lingkungan.
Mengakhiri sesi, Erland Fabian berharap kolaborasi ini melahirkan dampak berkesinambungan. “Kami berharap NUUR+ Fest menjadi mercusuar gerakan anak muda. Dalam membuktikan bahwa kepedulian lingkungan dapat di terjemahkan menjadi solusi nyata bagi masyarakat,” kata Erland.
Dia berharap, inisiatif panel surya di masjid ini mampu menginspirasi lebih banyak komunitas, memantik replikasi di berbagai wilayah Jawa Barat. “Serta menumbuhkan kesadaran bahwa masa depan energi bersih berkeadilan ada di tangan kolaborasi kita bersama,” pungkas Erland.






