Viral di Medsos Polemik Michelle Wibowo, dari Book Club hingga Dugaan Ijazah Palsu

SindoJabar, BANDUNG – Isu ijazah palsu kembali menjadi perbincangan masyarakat. Di media sosial (medsos), tudingan ijazah palsu menerpa influencer Michelle Wibowo, founder book club The Nonfiction Society.

Beberapa minggu lalu, Michele sempat viral di X dan Threads. Semua bermula dari ajakan Michele untuk bergabung dengan klub buku (book club) rintisannya, The Nonfiction Society. Sepintas, ajakan ini terdengar seperti undangan hangat yang bisa membawa dampak baik bagi para intelektual dan peminat bacaan nonfiksi.

Namun, unggahan Michelle justru memicu kemarahan dan perdebatan di kalangan pegiat buku di kedua platform tersebut. Pasalnya, Michelle mensyaratkan calon anggota book club-nya melampirkan foto ijazah minimal S-1 dari universitas luar negeri.

Bagi banyak pencinta buku, syarat ini berlebihan dan bertentangan dengan semangat kebersamaan yang semestinya menjadi napas sebuah komunitas buku. Balasan Michelle menyulut kemarahan lebih besar di medsos.

Sejumlah warganet mulai menelusuri latar belakangnya dan melakukan investigasi kecil-kecilan berdasarkan unggahan-unggahannya di Threads dan Instagram.

Salah satunya adalah pengguna Threads bernama John Chrysostom Evan (@jchrysev), yang berprofesi sebagai Corporate Legal Consultant muda di sebuah firma hukum.

Melalui utas di Threads, Evan mengungkap selama ini Michelle diduga menggunakan ijazah dan sertifikat palsu untuk kepentingan pribadi dengan motif belum jelas.

Jadi Perbincangan di Threads

Evan menyebut bahwa dokumen akademik yang Michelle unggah di Instagram diduga telah dipalsukan. Utas ini kemudian ramai menjadi perbincangan pengguna Threads, terutama komunitas pencinta buku.

Dokumen yang menjadi sorotan utama Evan adalah sertifikat skripsi terbaik Certificate of Best Bachelor Thesis dari Shanghai Jiao Tong University (上海 交通大学), salah satu universitas terbaik di Tiongkok. Dalam unggahannya, Michelle menyebut sertifikat ini sebagai bukti bahwa skripsinya termasuk 1% terbaik di kampus tersebut.

Menurut Evan, nama Michelle Wibowo pada sertifikat tersebut terlihat jelas ditimpa dengan tulisan lain, karena jenis hurufnya sangat berbeda dari teks di sekitarnya. Namun, kejanggalan yang paling mencolok justru terletak pada nama Mandarin yang tercantum di sertifikat yang sama, yaitu 章俊一 (Zhang Junyi).

Seorang alumnus SJTU asal Indonesia menanggapi utas Evan dan menyatakan bahwa sertifikat tersebut memang asli, tetapi diduga milik seorang mahasiswa laki-laki dari jurusan Computer Science.

Masih dalam utas yang sama, Evan juga menyebut bahwa sertifikat bahasa Jepang (JLPT N4) dan bahasa Mandarin (HSK 8) milik Michelle diduga turut dipalsukan. Evan melampirkan perbandingan dengan sertifikat JLPT N4 asli yang dia temukan di internet.

Format, teknik pengambilan gambar, dan warnanya sama persis dengan sertifikat yang Michelle unggah di media sosialnya. Evan juga menduga kuat sertifikat Business Analytics dari Harvard University dan ijazah MSc dari Lund University milik Michelle dipalsukan. Sebab, terdapat perbedaan piksel dan penggunaan jenis huruf yang tidak sesuai dengan standard sertifikat kedua lembaga tersebut.

Keesokan harinya, Evan membuat unggahan baru tentang sertifikat Financial Modeling & Valuation Analyst (FMVA) dari Corporate Finance Institute (CFI) yang juga diunggah Michelle. Dalam unggahan tersebut, Michelle menulis keterangan.

Sertifikat Atas Nama Orang Lain

“Kalo mau jd influencer keuangan wajib punya ini. Aku ambil dari CFI, dari Harvard & Bloomberg juga ada bagus bgt. Yg lokal ada namanya WMI (wakil manajer investasi dari OJK) or CFA wkwkw jujur aja aneh bgt sih lokal punya ngawur tapi ya uda ambil aja buat formalitas, ilmunya sih kaga ada, parah,” lalu menutupnya dengan emoji bingung.

Unggahan itu menuai beragam tanggapan. Ada yang menulis, “Sertifikasi WMI bukan untuk menjadi influencer, CFA juga bukan.” Ada pula yang menyatakan, “Sertifikasi itu untuk kerja profesional manajer investasi, FMVA tidak ada hubungan untuk memberikan konsultasi keuangan, kalau mau ambil CFP.”

Pada sertifikat tersebut tercantum nomor sertifikat unik yang diterbitkan oleh CFI. Evan kemudian menelusurinya melalui situs resmi CFI dan memasukkan nomor tersebut ke Accredible, platform verifikasi kredensial yang menggunakan teknologi blockchain. Hasilnya, sertifikat dengan nomor tersebut ternyata tercatat atas nama orang lain, yaitu Ibrahim Balkis.

Michelle juga kerap mengklaim dirinya sebagai spesialis old money parenting, topik yang sering dia angkat di media sosialnya. Untuk “membuktikan” klaim tersebut, dia melampirkan sertifikat parenting dari Jai Institute for Parenting.

Belakangan, Evan dihubungi melalui pesan langsung (direct message) oleh seseorang yang pernah menanyakan hal ini kepada institut tersebut. Menurut jawaban Jai Institute, tidak ada nama Michelle Wibowo dalam basis data mereka.

Saat di tanya tim mengenai alasan Evan melakukan penelusuran ini dan apakah dia mengenal Michelle, Evan mengaku tidak kenal Michelle Wibowo.

“Saya tidak kenal Michele Wibowo ini siapa. Sebelumnya saya juga tidak pernah berinteraksi dengan dia sama sekali. Namun, sosok ini cukup viral di media sosial karena unggahan book club-nya yang mengharuskan anggotanya lulusan luar negeri,” kata Evan.

Investigasi Kecil-kecilan

Dari profilnya, ujar Evan, MW tampaknya lulusan SJTU dan Lund. Berawal dari rasa penasaran, Evan melakukan sedikit stalking di Threads dan Instagram.

“Waktu saya lihat profilnya, kok, perkataannya kasar sekali. Banyak juga pernyataan kontroversial dari dia. Seperti, rasisme, sentimen anti-imigran, sovinisme rasial, dan pernyataan misoginis yang kerap merendahkan perempuan Indonesia. I mean, dia itu seorang perempuan, loh. Kenapa dia berkata-kata seperti itu? Unggahannya tidak mencerminkan intelektualisme. Dari situlah saya melakukan investigasi kecil-kecilan ini,” ujarnya.

Utas Evan akhirnya menarik perhatian pengacara Natalia Rusli, yang selama ini kerap menjadi sasaran serangan pribadi Michelle, termasuk terhadap keluarganya. Natalia bahkan pernah melaporkan Michelle ke kepolisian atas dugaan pencemaran nama baik karena merasa mendapat hujatan dan pembunuhan karakter dalam jumlah yang tidak lagi dapat di toleransi.

Salah satu tuduhan Michelle kepada Natalia adalah soal ijazah palsu. Tuduhan itu sempat bergulir hingga ke kepolisian melalui laporan polisi Nomor LP/B/3180/VI/2021/SPKT/PMJ. Tetapi penyelidikan di hentikan dengan terbitnya Surat Pemberitahuan Penghentian Penyelidikan (SP2Lid) setelah ijazah Natalia di nyatakan asli.

Natalia tampak menaruh perhatian serius pada utas Evan. Pasalnya, tim investigasi internal firma hukum miliknya, Master Trust Law Firm, menemukan sejumlah dokumentasi di media sosial Michelle yang menunjukkan bahwa dia pernah mempromosikan dan menjual kelas privat tanpa kualifikasi jelas.

Kelas-kelas tersebut antara lain kelas parenting dan kelas trading opsi saham (stock option), yang status legalitasnya hingga kini masih berada di wilayah abu-abu.

Dalami Kasus

Kemudian Natalia menjalin komunikasi dengan Evan setelah Michelle di duga mengancam Evan melalui pesan pribadi menggunakan akun palsu. Michelle juga di duga menyebarkan informasi pribadi Evan kepada orang lain tanpa sepengetahuan dan persetujuannya.

Natalia menyatakan dukungan penuh kepada Evan atas keberaniannya mengungkap dugaan ini demi kepentingan masyarakat. “Iya. Menurut saya ini berbahaya sekali. Sertifikat-sertifikat yang di duga palsu ini bisa dia gunakan untuk meyakinkan orang lain agar ikut kelasnya. Ini bisa menimbulkan kerugian, baik materiel maupun imateriel, bagi orang lain,” ujar Natalia.

Ketika di tanya apakah akan menempuh langkah hukum lebih lanjut, Natalia mengatakan, masih mendalami kasus ini bersama Evan dan beberapa orang lain yang di duga pernah menjadi korban Michelle.

“Dulu, si Michelle menuduh ijazah saya palsu. Padahal sudah terbukti ijazah dan kualifikasi saya asli semua. Iman saya percaya pada hukum tabur tuai. Kita bisa melihat kualitas ‘pupuknya’ dari ‘buah’ yang di hasilkan. Saya percaya Tuhan itu adil. Saya sudah berkali-kali di zalimi oleh Michelle, di fitnah ijazah saya palsu. Ternyata sekarang ijazah dia yang di duga palsu, melalui perpanjangan tangan adik Evan,” ujar Natalia.

“Saya sudah berdiskusi panjang dengan adik Evan. Saat ini kami sudah mengantongi beberapa bukti sertifikasi lain milik dia yang juga di duga di palsukan. Tunggu saja kelanjutannya,” tutur Natalia.

Imbauan kepada Masyarakat

Natalia menyampaikan imbauan kepada masyarakat. Selaku penegak hukum mengingatkan seluruh lapisan masyarakat Indonesia untuk berhati-hati terhadap siapa pun yang menjual kelas daring. Khususnya kelas keuangan seperti trading, apalagi jika pengajarnya tidak memiliki kualifikasi yang jelas.

“Masyarakat juga perlu lebih teliti dalam melihat sertifikasi seseorang dan memeriksa keabsahan kualifikasinya agar tidak tertipu. Praktik seperti ini di dasari iktikad tidak baik dan dapat merugikan masyarakat. Kalau ingin mengikuti pelatihan, pilihlah lembaga yang jelas akreditasinya dan memiliki tenaga pengajar profesional,” ucapnya.

Natalia juga mengajak masyarakat yang pernah di rugikan, baik secara materiel maupun imateriel oleh pengajar keuangan yang tidak memiliki kualifikasi untuk menghubungi Master Trust Law Firm guna mendapatkan pendampingan hukum.