Sindojabar, Bandung – Telkom University kembali mengukuhkan komitmennya dalam menghadirkan akademik unggul melalui Sidang Terbuka Senat Universitas Telkom dalam rangka Pengukuhan Guru Besar.
Acara yang digelar pada Kamis (29/10) di Auditorium Gedung Damar, Tel-U, Bandung, ini resmi mengukuhkan dua guru besar, yaitu Prof. Dr. Fajar Ciptandi, S.Ds., M.Ds., sebagai Guru Besar Bidang Tradition Based Product dari Fakultas Industri Kreatif (FIK) dan Prof. Dr. Z.K. Abdurahman Baizal, S.Si., M.Kom., sebagai Guru Besar Bidang Recommender System, Fakultas Informatika (FIF).
Sidang terbuka ini dipimpin oleh Ketua Senat Dr. Ir. Heroe Wijanto beserta seluruh komisi senat, Rektor Tel-U, Prof. Dr. Suyanto didampingi jajaran Wakil Rektor, Forum Guru Besar Tel-U, turut hadir Ketua Dewan Pengurus sekaligus Direktur Utama Badan Pelaksana Kegiatan Yayasan Pendidikan Telkom (YPT), Dodi Irawan beserta jajaran Board of Directors YPT.
BACA JUGA: Telkomsel Luncurkan Virtuship, Buka Akses Magang Virtual bagi Mahasiswa
Dalam sambutannya, Rektor Tel-U, Prof. Dr. Suyanto, menyampaikan selamat kepada kedua guru besar atas pencapaian tertinggi dalam bidang akademik ini. Ia menekankan bahwa gelar profesor bukan sekadar kehormatan, melainkan amanah besar untuk memberikan kontribusi nyata bagi peradaban dunia.
“Saya berharap para Guru Besar mampu menjadi teladan dan penggerak utama dalam membangun budaya akademik dan ekosistem riset yang unggul, inovatif, dan kolaboratif. Lebih dari itu, Guru Besar harus senantiasa menjaga integritas, etika akademik, serta menghadirkan warisan keilmuan yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat dan kemajuan bangsa,” jelas Prof. Suo.
Dalam penayangan video khusus, Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah 4 Jawa Barat & Banten, Dr. Lukman, S.T., M.Hum., menyampaikan apresiasi dan pesan kepemimpinan kepada kedua guru besar yang baru dikukuhkan.
“Sekali lagi selamat atas pencapaian Prof. Dr. Fajar Ciptandi dalam bidang ilmu Tradition Based Product, serta Prof. Dr. Z.K. Abdurahman Baizal dalam bidang ilmu Recommender System. Mudah-mudahan pencapaian ini menjadi pemacu dan pemicu lahirnya guru besar baru di Tel-U. Kami berpesan agar para guru besar dapat meneladani ajaran Ki Hajar Dewantara: Ing Ngarsa Sung Tuladha di depan memberikan teladan, Ing Madya Mangun Karsa di tengah membangun gagasan, dan Tut Wuri Handayani di belakang memberikan dorongan semangat,” ujar Dr. Lukman.
Pembacaan Surat Keputusan Guru Besar dilakukan oleh Wakil Rektor Bidang Sumber Daya, Dr. Nurwijayadi Wiratmo, S.T., M.M., serta pengenalan riwayat hidup masing-masing guru besar oleh dekan fakultas terkait, yakni Dekan FIK Dandi Yunidar, Ph.D. dan Dekan FIF Dr. Kemas Muslim Lhaksmana.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Fajar menyoroti dilema praktik kriya di Indonesia yang kerap terjepit di antara dua kutub ekstrem: pandangan konservatif yang membekukan tradisi tanpa ruang perubahan, serta komodifikasi masif pasar yang mereduksi nilai budaya sekadar menjadi kosmetik ekonomi.
Pendekatan top-down yang kerap dipaksakan juga berisiko melahirkan toxic innovation yang menjauhkan perajin dari realitas kebutuhan mereka.
Sebagai solusi, Prof. Fajar menawarkan model Inovasi Endogen, di mana kriya dikembangkan dalam kerangka ekosistem utuh bersama alam dan sistem sosialnya. Perajin diposisikan bukan sebagai objek pasif, melainkan sebagai co-creator (mitra sejajar). Sementara itu, peneliti hadir sebagai mediator adaptif yang mengintegrasikan pendekatan etnografi, fenomenologi, desain partisipatoris, transdisipliner, dan eksperimentatif secara proporsional guna menjaga keberlangsungan kriya di era kontemporer.
Sedangkan Prof. Baizal, dalam orasinya yang berjudul “Redefinisi Personalisasi Melalui Interactive Recommender System”, memaparkan sintesis portofolio riset selama satu dekade. Memasuki era Industri 5.0 yang berpusat pada manusia (human-centricity), algoritma rekomendasi pasif konvensional dinilai memiliki keterbatasan seperti masalah cold start dan filter bubble.
Melalui Interactive Recommender System (IRS), personalisasi diubah menjadi dialog dua arah yang transparan dan menjunjung tinggi kendali manusia (human agency). Riset beliau berfokus pada dua pilar utama:
Conversational Recommender System (CRS) berbasis ontologi semantik dan LLM untuk menjembatani kebutuhan pengguna awam.
Interactive Route Recommendation untuk perencanaan wisata multi-hari melalui pemecahan masalah Tourist Trip Design Problem (TTDP) menggunakan algoritma metaheuristik canggih seperti KomoTrip yang terintegrasi dengan Multi-Attribute Utility Theory (MAUT).
Ke depan, pengembangan ini diarahkan pada pendekatan Neuro-Symbolic AI untuk menciptakan kecerdasan buatan yang andal dan bebas halusinasi di sektor pariwisata cerdas.
Menjelang akhir acara, kedua guru besar secara resmi menandatangani Komitmen Guru Besar yang disaksikan langsung oleh Rektor Tel-U. Prosesi pengukuhan ini ditutup dengan doa bersama serta pemberian ucapan selamat dari sivitas akademika yang hadir.
Kehadiran dua guru besar baru ini diharapkan semakin memperkuat posisi Tel-U sebagai perguruan tinggi unggul yang konsisten melahirkan riset inovatif berdampak luas bagi kemajuan teknologi, industri kreatif, dan masyarakat Indonesia.






