Bakteri E. coli Cemari Sungai di Kota Bandung Hingga 90 Persen

SindoJabar, BANDUNG – Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyoroti persoalan sanitasi lingkungan menyusul laporan organisasi nonpemerintah (NGO) yang menyebut pencemaran bakteri Escherichia coli (E. coli) di sejumlah sungai di Kota Bandung mencapai hampir 90 persen.

Farhan mengaku masih akan mengonfirmasi kebenaran hasil survei tersebut. Namun, laporan itu menjadi perhatian karena pencemaran bakteri E. coli berpotensi mengancam kesehatan masyarakat.

Baca Juga:Pegadaian Kanwil X Jawa Barat Salurkan Bantuan Air Bersih dan Sanitasi untuk Warga Pangalengan

“Saya lagi mau konfirmasi. Sebuah NGO kemarin sore menyampaikan laporan bahwa survei mereka di beberapa sungai di Kota Bandung, pencemaran bakteri E. coli-nya sudah mencapai hampir 90 persen,” kata Farhan, Rabu (4/11/2026).

Menurutnya, persoalan kualitas air juga berkaitan dengan pengawasan usaha depot air minum isi ulang. Hal itu menyusul arahan Kementerian Perdagangan agar pemerintah mulai meningkatkan pengawasan terhadap usaha tersebut.

Farhan menyebut, Direktorat Pemberdayaan Konsumen Kementerian Perdagangan telah menyampaikan bahwa sekitar 800 usaha depot air minum isi ulang di Kota Bandung memenuhi standar kesehatan untuk melindungi konsumen.

Baca Juga:DPRD Jabar Perkuat Perda Lingkungan, Alih Fungsi Lahan di Bogor Jadi Sorotan

“Kementerian Perdagangan sudah secara resmi menemui saya langsung. Dari Direktur Pemberdayaan Konsumen memastikan bahwa dari 800 usaha isi ulang galon air bersih di Kota Bandung, semuanya memenuhi standar kesehatan untuk melindungi konsumen di Kota Bandung,” katanya.

Farhan mengungkapkan, persoalan sanitasi di lingkungan permukiman masih menjadi pekerjaan rumah. Berdasarkan data LaciRW, sebanyak 27 persen rumah di Kota Bandung telah memiliki toilet, tetapi belum dilengkapi septic tank.

Akibatnya, limbah kotoran manusia dari sebagian rumah tangga masih dialirkan langsung melalui pipa ke lingkungan tanpa melalui pengolahan terlebih dahulu.

“Kalau berdasarkan data LaciRW, 27 persen rumah toiletnya di Kota Bandung itu sudah tidak ada yang rumah tanpa toilet atau permukiman tanpa toilet umum, semuanya sudah ada. Tapi, 27 persen toiletnya itu pipanya masih terjun bebas,” ungkapnya.

Baca Juga:DPRD Jabar Dorong Langkah Konkrit Tangani Luapan Sungai Pasca Banjir di Kabupaten Bandung

Farhan menjelaskan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kepemilikan toilet belum sepenuhnya diikuti penerapan sanitasi yang layak. Meski kesadaran mengenai pentingnya Open Defecation Free (ODF) atau bebas buang air besar sembarangan sudah terbentuk, sebagian warga masih belum memiliki septic tank.

Farhan mengingatkan, bakteri E. coli dapat menyebabkan diare yang berisiko mengganggu kesehatan, terutama pada bayi dan anak-anak.

Lebih lanjut Farhan mengatakan, diare pada bayi berusia di bawah dua bulan dapat memicu penurunan berat badan dan daya tahan tubuh. Kondisi tersebut juga berpotensi meningkatkan risiko gangguan pertumbuhan hingga stunting.

“Bakteri E. coli menyebabkan diare. Diare di usia bayi di bawah dua bulan akan menimbulkan risiko terjadinya stunting, penurunan berat badan, penurunan daya tahan tubuh, sehingga nanti ujung-ujungnya bisa TBC,” jelasnya.

Farhan menambahkan, persoalan tersebut sebagai lingkaran masalah kesehatan yang harus diputus melalui perbaikan sanitasi lingkungan. Karena itu, penanganan pencemaran bakteri E. coli, pemenuhan fasilitas sanitasi, dan peningkatan kesadaran masyarakat menjadi bagian penting dalam upaya melindungi kesehatan warga.

Baca Juga:Normalisasi Sungai Cikalintu Tak Lagi Memungkinkan, Farhan Cari Solusi Banjir Lembang

“Kalau sudah TBC maka dia akan terjebak dalam stunting. Itu lingkaran setan namanya, the vicious cycle. Ini yang terus terjadi. Maka, bakteri E. coli, ODF, dan lain-lain bagian dari upaya kita menangani sanitasi lingkungan,” pungkasnya.;(*YM)