Farhan Ungkap Biang Kerok Kenaikan Harga Tepung Tapioka di Bandung

SindoJabar, BANDUNG – Harga tepung tapioka di Kota Bandung mengalami kenaikan akibat pasokan di pasaran yang mulai seret. Kondisi tersebut dipicu terhentinya impor tepung tapioka, sementara produksi dalam negeri belum mampu mengimbangi kebutuhan pasar.

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan mengatakan, selama ini kebutuhan tepung tapioka nasional dipenuhi dari produksi dalam negeri dan impor, salah satunya dari India. Namun, setelah pasokan impor terhenti, kebutuhan pasar sepenuhnya bergantung pada produksi domestik.

Baca Juga:KPK Diminta Ungkap Seluruh Rantai Tata Kelola Impor di Balik Kasus Suap Importasi

Salah satu daerah pemasok utama, Lampung, hingga kini belum mengalami peningkatan produksi. Akibatnya, pasokan yang tersedia harus memenuhi tambahan permintaan yang sebelumnya dipenuhi melalui impor.

“Tepung tapioka yang merupakan salah satu bahan utama untuk cilok, cimol, dan cireng, itu sekarang sudah tidak ada yang impor. Akibatnya, pasokan di pasar agak seret karena semuanya datang dari dalam negeri,” kata Farhan, Selasa (3/11/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut menyebabkan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan sehingga harga tepung tapioka mengalami kenaikan.

Baca Juga:Kasus Blue Ray Cargo Dinilai Baru Bongkar Sebagian Jaringan Mafia Impor

“Produksi Lampung itu tidak bertambah, tapi harus mengisi permintaan yang selama ini diisi oleh tepung tapioka yang diimpor dari India. Jadi, mekanisme pasar, harga menjadi agak naik,” katanya.

Meski demikian, Farhan berharap kenaikan harga tersebut tidak berlangsung lama. Dia mengaku mendapat informasi bahwa Kementerian Pertanian bersama TNI akan meningkatkan produksi singkong melalui pengelolaan kawasan food estate di Lampung.

Langkah tersebut diharapkan mampu menambah pasokan bahan baku tepung tapioka sehingga kebutuhan pasar dapat kembali terpenuhi.

“Saya mendapatkan informasi bahwa Kementerian Pertanian dan TNI yang memang memiliki tugas khusus dari pemerintah untuk mengoperasikan atau mengelola food estate singkong di Lampung itu akan menambah produksi di ujung musim kemarau ini,” ungkapnya.

Baca Juga:Kasus Impor DJBC: Batas Jasa Hukum Nonlitigasi dan Dugaan Perintangan Penyidikan

Farhan berharap, penambahan produksi tersebut dapat mendorong stabilisasi harga tepung tapioka, termasuk di Kota Bandung.

“Mudah-mudahan harga bisa normal lagi,” pungkasnya. (*YM)