Mardiono Serap Aspirasi Petani, Alsintan dan Perlindungan Sawah Jadi Sorotan

SindoJabar, BANDUNG – Keterbatasan alat dan mesin pertanian (alsintan) serta perlindungan lahan sawah produktif menjadi persoalan yang masih dihadapi petani di Kabupaten Bandung.

Di tengah produksi padi yang melimpah, dukungan sarana pertanian dinilai masih perlu diperkuat agar produktivitas dan ketahanan pangan tetap terjaga.

Persoalan tersebut mengemuka saat Utusan Khusus Presiden Bidang Ketahanan Pangan, Muhamad Mardiono, menghadiri panen raya padi bersama Kelompok Tani Mandiri di Desa Tegalluar, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Minggu (11/10/2026).

Baca Juga: Sawah Terancam Kekeringan, Ratnawati Desak Penataan Ulang PDAM oleh Pemprov

Dalam kesempatan itu, Mardiono berdialog langsung dengan para petani untuk menyerap aspirasi sekaligus mengidentifikasi berbagai kendala yang mereka hadapi di lapangan.

Masukan tersebut dicatat untuk ditindaklanjuti sebagai bahan pertimbangan pemerintah dalam merumuskan kebijakan ketahanan pangan.

“Hari ini saya menghadiri panen raya di Desa Tegalluar yang diprakarsai Kelompok Tani Mandiri. Tadi para petani sudah menyampaikan aspirasinya. Insyaallah akan segera ditindaklanjuti,” kata Mardiono.

Baca Juga: Pemkot Bandung Tambah 25 Mesin Pengolah Sampah dan 1.597 Petugas

Menurutnya, mendengar langsung suara petani merupakan bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan nasional, sejalan dengan program Asta Cita yang diamanatkan Presiden Prabowo Subianto.

Mardiono menegaskan, pangan bukan sekadar kebutuhan pokok masyarakat, melainkan juga menyangkut harkat dan martabat bangsa. Karena itu, berbagai persoalan yang berpotensi menghambat produksi pertanian perlu mendapat perhatian pemerintah.

Ia juga menekankan pentingnya komunikasi dua arah antara pemerintah dan masyarakat. Melalui komunikasi tersebut, aspirasi petani dapat tersampaikan, sementara kebijakan dan program pemerintah bisa dipahami secara jelas oleh masyarakat.

“Presiden menginginkan agar hambatan yang dihadapi petani bisa langsung didengar. Sebaliknya, program kerja pemerintah juga dapat tersampaikan dengan jelas kepada rakyat,” ujarnya.

Baca Juga: DKPP Bandung Tarik 25 Merek Beras Fortifikasi Dari Pasar

Produksi Beras Melimpah, Petani Masih Kekurangan Mesin Panen

Di sisi lain, potensi pertanian di Kecamatan Bojongsoang terbilang besar. Perwakilan Kelompok Tani Sumber Tani Jaya, Rizal, mengungkapkan wilayah tersebut memiliki sekitar 1.500 hektare lahan padi yang menghasilkan ratusan ton beras untuk memasok kebutuhan sejumlah daerah, termasuk Jakarta dan Cianjur.

Meski Kabupaten Bandung tergolong surplus beras, kondisi itu belum sepenuhnya diimbangi ketersediaan sarana pertanian yang memadai.

Petani masih menghadapi keterbatasan mesin pemanen dan traktor, terutama untuk mendukung proses pascapanen serta mempersiapkan lahan menghadapi musim tanam berikutnya.

Baca Juga: Anggota DPRD Jabar Dorong Regenerasi Petani dan Perlindungan Lahan Pertanian

“Kabupaten Bandung ini surplus padi, tetapi pascapanen kami sering kesulitan karena mesin pemanennya masih sangat kurang,” ungkap Rizal.

Karena itu, mereka berharap pemerintah bisa memperkuat dukungan sektor pertanian melalui perbaikan sarana-prasarana serta perlindungan lahan produktif melalui kebijakan Lahan Sawah Dilindungi (LSD). (*)