SINDOJABAR.COM – Perwakilan Indonesia tampil menonjol dalam Konferensi Internasional bertajuk International Community Service Collaboration: “Global Collaboration for Sustainable Development From Research To Community Impact”nyang digelar di Universiti Kuala Lumpur (UniKL), Malaysia, Selasa, 23 Desember 2025.
Forum internasional ini mempertemukan akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan lintas negara untuk membahas kolaborasi global dalam pembangunan berkelanjutan, mulai dari riset hingga dampak nyata bagi masyarakat.
Delegasi Indonesia hadir membawa beragam perspektif, mulai dari isu sosial, ekonomi sirkular, hingga pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.
Salah satu figur sentral dari Indonesia adalah Assoc. Prof. Dr. Rachmawati Novaria Adipoeday, M.M., CIQaR, yang didapuk sebagai keynote speaker. Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya ini, telah berkiprah di dunia akademik sejak 1993 dan pernah menjabat sebagai Dekan FISIP. Saat ini, Rachmawati Novaria juga aktif sebagai asesor LAMSPAK.
Dalam paparannya, ia menekankan pentingnya pengabdian masyarakat yang berkelanjutan dan berbasis riset agar tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata.
Selain itu, kontribusi generasi muda akademisi Indonesia turut mencuri perhatian melalui Andria Marchelia, S.H., M.Kn., dosen Fakultas Hukum Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya. Mengangkat judul “Inovation of plastic shredding tool to reduce plastic waste and incrase income for fisherman families on the east coast of surabaya.”
Andria memaparkan praktik pendampingan masyarakat pesisir melalui inovasi alat daur ulang sampah plastik. Dosen Gen-Z yang juga anggota luar biasa Ikatan Notaris Indonesia ini menegaskan bahwa isu lingkungan membutuhkan pendekatan hukum, teknologi, dan partisipasi masyarakat secara bersamaan.
Dari Bali, Dr. Desak Nyoman Sri Werastuti, SE., M.Si., Ak., CA., CSRA., CSRS, mempresentasikan program bertajuk “Empowering the Kayubihi Village Bamboo Weaving Artisan Group to Create a Sustainable Business”.
Dosen Fakultas Ekonomi Undiksha yang homebased di Program Doktor Ilmu Akuntansi ini menyoroti penguatan UMKM berbasis kerajinan bambu melalui tata kelola keuangan dan keberlanjutan usaha. Desak Sri dikenal aktif sebagai pengelola Prodi S3 Akuntansi Undiksha, Ketua ZI WBK FE Undiksha, Ketua ADAI Wilayah Bali, serta Sekretaris IAI Wilayah Bali.
Kehadiran Indonesia dalam konferensi ini juga diperkuat oleh sektor korporasi. CEO Martasandy Group, Billy Martasandy, menilai forum internasional seperti UniKL menjadi ruang strategis untuk mempertemukan dunia akademik dan industri.
“Kolaborasi global tidak cukup hanya berhenti di ruang diskusi. Harus ada jembatan antara riset, kebijakan, dan praktik di lapangan. Konferensi ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki banyak praktik baik pengabdian masyarakat yang bisa dikembangkan melalui kemitraan internasional,” ujar Billy Martasandy.
Ia menambahkan, keterlibatan sektor swasta sangat penting agar hasil riset dan pengabdian masyarakat memiliki dampak ekonomi dan sosial yang berkelanjutan. “Kami di Martasandy Group melihat peluang besar untuk bersinergi dengan perguruan tinggi, khususnya dalam penguatan kapasitas masyarakat dan pengembangan model bisnis berkelanjutan,” tambahnya.
Konferensi Internasional UniKL ini menjadi bukti bahwa kontribusi Indonesia, baik dari kalangan akademisi senior, dosen muda, hingga pelaku usaha, memiliki posisi strategis dalam percakapan global tentang pembangunan berkelanjutan. Tidak hanya berbagi gagasan, delegasi Indonesia juga membawa praktik nyata yang siap direplikasi dan dikembangkan lintas negara.***







