Sindojabar, BANDUNG – Apa yang terjadi ketika aksi pencopetan di tengah festival musik tidak hanya menjadi persoalan kejahatan, tetapi juga membawa empat sahabat pada perjalanan yang mengubah cara mereka melihat kehidupan?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu daya tarik film Operasi Pesta Copet, debut penyutradaraan musisi asal Bandung, Edy Khemod.
Film produksi Imajinari bersama Angin Segar dan Boss Creator ini telah tayang di seluruh bioskop Indonesia sejak 27 Agustus 2026. Mengusung pencopetan sebagai premis utama, Operasi Pesta Copet kemudian berkembang menjadi cerita mengenai persahabatan, ketimpangan ekonomi, serta keresahan terhadap fenomena copet yang kerap muncul di tengah keramaian konser dan festival musik.
Baca Lagi Film Istimewa Bawa Pesan Kemanusiaan dari Layar Lebar
Kehadiran film ini juga menjadi istimewa bagi Bandung. Kota tersebut merupakan salah satu tujuan Geng Copet Keliling yang menghadirkan sejumlah pemain dan tim kreatif untuk menyapa penonton.
Iqbaal Ramadhan, Kristo Immanuel, Zulfa Maharani, Kawai Labiba, Fauzan Lubis, serta produser Dipa Andika hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut pada Sabtu (29/8/2026).
Warga Bandung dapat menyaksikan Operasi Pesta Copet di sejumlah bioskop. Di CGV BEC Mall tersedia jadwal pukul 13.50, 16.10, 18.30, dan 20.50 WIB. Sementara Empire XXI memiliki jadwal pukul 20.50 WIB dan Istana Plaza Cinepolis pukul 21.15 WIB.
Salah satu keunikan film ini terletak pada proses produksinya. Tim Operasi Pesta Copet tidak sekadar membuat ulang suasana festival musik di dalam studio, tetapi benar-benar melakukan pengambilan gambar di tengah kerumunan penonton Pestapora.
Keputusan tersebut membuat proses syuting menjadi jauh lebih kompleks. Setiap momen yang terekam harus dimanfaatkan karena kondisi festival tidak memungkinkan tim produksi mengulang adegan dengan leluasa.
Produser Dipa Andika mengatakan, persiapan untuk pengambilan gambar di Pestapora bahkan telah dilakukan sejak 2024. Tim produksi melakukan pemetaan terhadap panggung dan berbagai kemungkinan lokasi yang dapat digunakan sebagai bagian dari adegan.
“Syutingnya saat Pestapora 2025, tapi kami sudah persiapan sejak Pestapora 2024. Kami melihat panggung mana yang memungkinkan untuk menjadi bagian dari set syuting. Jadi menurut kami syuting di Pestapora adalah yang tersulit, karena itu adalah adegan yang tidak bisa mengulang,” ungkap Dipa Andika di Bandung, Sabtu (29/8/2026).
Bagi Edy Khemod, tantangan terbesar salah satunya muncul dalam adegan terakhir ketika para karakter harus naik ke atas panggung dengan waktu pengambilan gambar yang sangat terbatas.
“Salah satu yang paling sulit dan menjadi tantangan adalah adegan terakhir di film ini, saat naik ke panggung, dengan waktu syuting yang pendek,” ujar Khemod.
Adegan lain yang tidak kalah menantang adalah ketika geng copet melakukan latihan sebelum menjalankan aksinya di Pestapora. Khemod mengemas latihan tersebut dalam adegan wall of death yang melibatkan sekitar 500 orang.
“Jadi kami membuat adegan wall of death, dan itu harus diulang berkali-kali, dengan 500 orang yang terlibat,” kata Khemod.
Khemod yang selama ini dikenal sebagai personel grup musik Seringai sekaligus show and creative director berbagai pertunjukan musik, membawa pengalaman tersebut ke dalam film perdananya.
Gagasan awal Operasi Pesta Copet sendiri berangkat dari keresahan Khemod terhadap fenomena pencopetan di konser. Ide mengenai operasi pencopetan di sebuah festival musik kemudian dibawa ke Imajinari hingga berkembang menjadi film layar lebar.
Dibutuhkan waktu sekitar tiga tahun sejak gagasan tersebut muncul hingga akhirnya Operasi Pesta Copet dapat dinikmati penonton di bioskop.
Namun, film ini tidak berhenti pada persoalan copet. Perjalanan empat sahabat menjadi ruang bagi Khemod untuk memasukkan persoalan sosial, terutama ketimpangan ekonomi dan pilihan-pilihan yang dihadapi seseorang dalam kondisi tertentu.
Di sisi lain, Operasi Pesta Copet juga mencoba merekam perubahan lanskap musik Indonesia. Khemod melihat festival musik sebagai salah satu penanda penting generasi saat ini.
Jika era 2000-an banyak ditandai semangat Do It Yourself (DIY) dan independensi musisi, menurut Khemod, generasi sekarang lebih banyak ditandai oleh format festival dan berbagai gelaran musik.
“Menurut saya sekarang penandanya bukan independency-nya, tapi formatnya, festivalnya, event-nya. Betapa festival musik saat ini banyak sekali, dengan berbagai formatnya,” papar Khemod.
Pestapora, menurut dia, menjadi salah satu festival yang merepresentasikan perubahan tersebut. Karena itu, keberadaan festival dalam Operasi Pesta Copet bukan hanya berfungsi sebagai latar cerita, tetapi juga menjadi bagian dari gambaran mengenai zaman dan ekosistem musik saat ini.
Dengan demikian, penonton yang datang ke bioskop tidak hanya disuguhi cerita mengenai sekelompok copet. Film ini mengajak penonton mengikuti dinamika empat sahabat, melihat bagaimana mereka menjalankan rencana pencopetan, sekaligus memahami alasan dan kondisi yang membentuk perjalanan mereka.
Premis tentang copet menjadi pintu masuk, sementara persahabatan menjadi inti cerita. Di dalamnya terdapat persoalan sosial dan emosi yang membuat kisah tersebut tidak berhenti sebagai komedi atau aksi pencopetan semata.
Sementara itu, Bandung menjadi salah satu dari 11 kota yang didatangi Geng Copet Keliling pada 22–31 Agustus 2026. Selain Bandung, rangkaian tersebut menyambangi Malang, Surabaya, Sidoarjo, Solo, Yogyakarta, Semarang, Purwokerto, Cirebon, Bekasi, dan Bogor.
Bagi penonton yang penasaran bagaimana aksi pencopetan di tengah festival musik diterjemahkan menjadi cerita layar lebar, Operasi Pesta Copet menawarkan pengalaman yang berbeda.
Film ini dapat menjadi pilihan untuk melihat perpaduan antara aksi, komedi, persahabatan, dan potret sosial dalam satu cerita.






